sambil merenung, terkadang tertawa cekikian sendiri kayak ‘orgil’.  Aku memikirkan percakapanku dengan salah seorang pinisepuh, atau setidaknya orang yang ku anggap sepuh siang tadi. Untuk ukuran lokal, bisalah dikatakan beliau itu juga salah satu tokoh pendidikan di kampungku.

aku mencoba membuka ruang dialog dengan beliau, “pak, apa masih ada harapan kualitas pendidikan di negeri kita ini membaik ?”

diluar dugaanku, jawaban yang biasanya kuterima selalu bijak, ternyata adalah jawaban sinis dan sedikit emosional, ” membaik bagaimana, memburuk ia !”

… loh koq, begitu pak ? …………….

“bagaimana kalian akan meningkatkan mutu pendidikan, jika kalian kehilangan idealisme ? bagaimana kalian mempunyai harga diri ? kalau kalian suka menjual diri !”

“apa kalian berani menjamin, kualitas lulusan yang kalian hasilkan itu qualified, orang kalian sendiri tidak percaya dengan hasil ujian nasional ? apalagi orang lain koq suruh percaya ?”

“apa kalian berani mengatakan kualitas guru-guru ini telah membaik seiring peningkatan kesejahteraannya ? bagaimana faktanya ? orang yang memegang kebijaksanaan sendiri tidak pernah mengetahui bahkan tak peduli pada apa itu peningkatan kualitas ?

bagaikan tersentak , aku hanya manggut-manggut saja sambil berkata lirih “koq bisa begitu, pak ?”

bukannya jawaban yang kuperoleh, beliau malah menggerutu mengenai, nazarudin, saifudin, bahkan udin sedunia, (kebetulan saat itu kami ngobrol sambil liat berita di global tv) hehehe.

“kau lihat di tipi itu, anggota dpr bicara ‘ndakik-ndakik’, apa kau pikir mereka bicara mengenai nasib rakyat ? sesungguhnya mereka bicara mengenai dirinya sendiri !”

“apa kau pikir saat ini ada orang yang memikirkan orang lain apalagi memikirkan rakyat ? semua berpikir mengenai kemaslahatan dirinya sendiri !”

tiba-tiba, kulihat beliau tersenyum pahit seperti menertawakan dirinya sendiri,

katanya, “tapi mungkin, kita saat ini memang sedang disuruh Tuhan untuk belajar hidup di hari kiamat kelak nak ? ”

… loh koq begitu pak? …

“kamu ngerti kan , bahwa nanti di hari kiamat orang-orang akan berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan anak istrinya saja akan terlupakan, .. lha, bagaimana mau memikirkan orang lain, wong memikirkan dirinya sendiri aja kelabakan, ya seperti disini ini…. ”

“bagaimana pemipin mau melihat kesusahan rakyat ini, wong pesawat pribadi belum punya ? bagaimana pemimpin mau memikirkan rakyat, wong modal yang dulu belum kembali ? sekarang saya tanya, apa yang telah dilakukan orang yang kamu pilih dulu pada diri mu sekarang ini ?

loh… loh…

semakin jauh dari ruang diskusi yang aku buka, aku berusaha mengembalikan ke topik sebelumnya tentang pendidikan,

… tapi kan, sekolah-sekolah kita saat ini semakin baik pak, ada ISO, ada RSBI dam ada RS RS yang lain ? menteri pendidikan kita juga hebat kan (sambil berbangga dalam hati, itu kan bekas guru besar gue, hehe) ? …

lagi-lagi jawaban beliau terlihat ‘sengol’ ,

” pejabat-pejabat kita yang diatas itu memang terlalu pinter nak, ada yang jebolan amerika, jerman, inggris, australia… ketika kembali mengurusi negeri ini, beliau mencoba membuat formulasi hebat yang mengadobsi sistem-sistem dari negeri negeri dimana beliau belajar, dibuatlah campuran-campuran yang paling baik…. hasilnya ? jadilah sistem pendidikan gado-gado…. rasanya yang seperti gado-gado itu !”

“kau lihat bagaimana para anggota dpr yang terhormat belajar etika dari negeri swiss… apa mereka tidak tau, bahwa mbah maridjan itu jauh lebih beretika didalam tanggung jawab kerjanya, ngapain jauh-jauh dolan ke swiss ?…. kau lihat seribu kali para pejabat kita studi banding tentang tata kota dan kelalulintasan jalan raya… kau lihat hasilnya, bahkan tidak ada yang namanya jalanan yang layak dilewati di negeri ini !”

wah… wah… wah… mbalik lagi ke politik… aku coba ‘ngguyoni’  bapak itu, “pak, coba saja bapak masuk kedunia politik, ke dpr gitu, untuk mengubah keadaan yang semakin memburuk ini…”

kulihat dahinya mengkerut, kemudian perlahan-lahan tersenyum dan mencair, beliau berkata dengan pelan,

“nak, bapak ini sudah tua, bapak tidak perlu belajar hari kiamat di negeri ini, toh sebentar lagi hidup bapak juga akan kiamat… beruntunglah kamu masih muda, jauh hari sudah mengetahui bagaimana hari kiamat itu … ”

beliau tersenyum, akupun tersenyum galau, sambil lamat-lamat mendengar lagu udin sedunia di global tv….